Pretty Rogi Angkat Kekayaan Budaya Papua Lewat Busana Pria Modern

0

JAYAPURA — Kekayaan budaya Papua terus menjadi sumber inspirasi bagi para pelaku industri kreatif untuk melahirkan karya yang relevan dengan perkembangan zaman. Salah satunya dilakukan perancang busana autodidak asal Papua, Pretty Rogi, yang konsisten mengangkat identitas budaya Papua melalui rancangan busana pria modern di bawah naungan Binshera Fashion.

Pretty menghadirkan busana pria dengan karakter formal dan elegan, namun tetap mempertahankan sentuhan tradisional Papua. Baginya, pakaian bukan sekadar penampilan, tetapi juga media untuk memperkenalkan nilai, filosofi, dan warisan leluhur kepada generasi masa kini.

Ketertarikan Pretty terhadap dunia fashion berawal dari keinginan sederhana untuk membuat pakaian yang dapat dikenakan sendiri. Dari proses tersebut, tumbuh kecintaan yang semakin besar terhadap rancangan busana, khususnya busana pria.

Inspirasi utamanya berasal dari kehidupan masyarakat Papua pada masa lalu. Ia mencoba menerjemahkan filosofi dan karakter laki-laki Papua ke dalam desain yang lebih modern tanpa menghilangkan identitas budaya.

“Kenapa saya memilih busana pria lebih banyak daripada wanita? Karena kalau kita lihat dari ujung Kepala Burung (Sorong) sampai Samarai, baju etnik kita zaman dulu laki-laki tidak pakai penutup bagian atas karena pengaruh iklim dan menunjukkan laki-laki sebagai pelindung,” ujar Pretty.

Menurutnya, kekayaan budaya Papua memiliki banyak unsur yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari industri fashion modern. Karena itu, ia berusaha menjadikan berbagai warisan leluhur sebagai elemen utama dalam setiap desainnya.

Pretty juga mengaku prihatin melihat sejumlah motif yang digunakan dalam produk fashion berlabel Papua belum sepenuhnya menggambarkan kekayaan identitas budaya Papua. Kondisi tersebut justru mendorongnya untuk menghadirkan pendekatan berbeda melalui busana pria.

“Hati saya susah karena kebanyakan batik-batik Papua yang dibuat itu motifnya kurang pas. Itu yang memotivasi saya untuk coba berpikir, hasil-hasil dari leluhur kita yang dimodernkan saya taruh di baju kaum pria, karena bagi saya pria adalah kebanggaan,” tegasnya.

Dalam mengembangkan desain, Pretty memadukan sejumlah unsur khas Papua, seperti noken dan rajutan 88 Papua, dengan potongan busana modern. Perpaduan tersebut menghasilkan pakaian yang tetap memiliki nuansa Papua, tetapi dapat digunakan dalam berbagai kesempatan formal maupun kegiatan fashion.

Konsistensi Pretty dalam mengembangkan fashion etnik Papua juga terlihat dari keterlibatannya dalam sejumlah ajang mode. Pada 2023, ia menampilkan koleksi jas yang dikombinasikan dengan rajutan 88 Papua dalam panggung Noken Fashion Street Kabupaten Jayawijaya.

Setahun kemudian, Pretty kembali memperkenalkan karyanya melalui Noken Street Fashion Isakusa Jayawijaya dan panggung Noken Fashion di Sabrina, Jakarta. Pada 2025, ia turut merancang busana untuk peragaan dalam rangka memperingati Hari Perempuan Sedunia.

Memasuki 2026, Pretty kembali membawa karya terbaiknya ke panggung Noken Fashion Street Jayawijaya, sekaligus menunjukkan bahwa fashion berbasis budaya lokal memiliki peluang untuk terus berkembang.

Bagi Pretty, perjalanan di dunia fashion bukan hanya tentang menciptakan pakaian yang menarik secara visual. Lebih dari itu, ia ingin menjadikan setiap rancangan sebagai jembatan antara warisan leluhur dan kehidupan modern.

Ia berharap semakin banyak generasi muda Papua yang berani menggali kekayaan budaya daerah dan mengolahnya menjadi karya kreatif yang memiliki nilai ekonomi sekaligus menjaga identitas Papua.

Melalui busana pria yang modern dan berkarakter, Pretty ingin membuktikan bahwa budaya Papua tidak harus berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Dengan kreativitas dan inovasi, warisan tersebut dapat terus hidup, berkembang, dan tampil percaya diri di panggung fashion masa kini.**

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini