Tong Masih di Sini, Merangkai Cerita Rantai Ekonomi Rakyat Papua

0

JAYAPURA — Imaji Papua kembali menghadirkan karya dokumenter yang merekam wajah kehidupan masyarakat Papua dari sisi yang dekat dengan keseharian. Film dokumenter terbaru berjudul Tong Masih di Sini menyoroti ketangguhan pelaku usaha, petani, dan pedagang Orang Asli Papua (OAP) dalam menjaga roda ekonomi keluarga sekaligus menghidupkan rantai ekonomi lokal.

Dokumenter ini tidak sekedar bercerita tentang komoditas seperti kopi, sayur, sagu, dan pinang. Film tersebut memperlihatkan bagaimana setiap pekerjaan memiliki keterkaitan dengan kehidupan orang lain, membentuk sebuah rantai ekonomi yang terus bergerak dari kebun hingga ke meja keluarga.

Melalui pesan utama “Tak ada kehidupan yang berjalan sendirian”, Imaji Papua mempertemukan kisah sejumlah penggerak ekonomi rakyat yang hidup dan bekerja di wilayah berbeda.

Di Wamena dan Tiom, Kabupaten Lanny Jaya, terdapat Moses Yigibalom dan Pieter Yigibalom yang bergerak di bidang kopi. Keduanya berupaya membangun ekosistem komoditas kopi lokal yang dikelola dan dikembangkan oleh anak-anak Orang Asli Papua.

Kisah lainnya datang dari Wene Kalolik di Wamena. Selain bekerja sebagai tenaga honorer, ia juga mengandalkan hasil kebun berupa tomat dan berbagai jenis sayuran sebagai sumber tambahan untuk menjaga keberlangsungan ekonomi keluarganya.

Sementara di Merauke, Yakobus Yatmop hadir sebagai petani sekaligus penggerak usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis sagu. Sebagai Ketua Kelompok Tani Sagu Dwitrap, ia berhasil membawa produk olahan sagu menembus pasar di luar Papua, di antaranya Bali, Yogyakarta, Semarang, hingga Sumatra Barat.

Ada pula Agustina Rontini, seorang penjual pinang yang selama puluhan tahun tetap bertahan menjalankan usahanya. Di tengah kondisi pasar yang terus berubah dan tidak selalu menjanjikan, ia tetap setia menjajakan dagangannya sebagai bagian dari upaya memenuhi kebutuhan keluarga.

Meski berada di tempat berbeda dan mungkin tidak pernah saling mengenal, pekerjaan mereka ternyata saling terhubung. Kopi yang dihasilkan petani, sayuran dari kebun, sagu yang diolah menjadi produk bernilai ekonomi, hingga pinang yang dijual setiap hari menjadi bagian dari perputaran kehidupan masyarakat.

Tong Masih di Sini menyusuri perjalanan berbagai komoditas tersebut, dari kebun hingga sampai ke meja-meja keluarga di Papua. Film ini ingin menunjukkan bahwa perekonomian tidak hanya digerakkan oleh perusahaan besar, tetapi juga oleh masyarakat biasa yang setiap hari bekerja, bertahan, dan menciptakan nilai dari apa yang mereka miliki.

Di tengah berbagai tantangan ekonomi, para petani, pedagang, dan pelaku UMKM tersebut memilih untuk tetap bertahan dan melanjutkan pekerjaan mereka. Dari tangan-tangan sederhana itulah, roda ekonomi lokal terus berputar.

Melalui dokumenter ini, Imaji Papua sekaligus mengajak penonton melihat Papua dari perspektif masyarakat yang menjadi pelaku utama dalam kehidupan ekonomi sehari-hari. Ada kerja keras, ada keterhubungan, dan ada harapan yang terus dipelihara.

Tong Masih di Sini pada akhirnya bukan hanya tentang mereka yang bertahan di tengah tantangan, tetapi juga tentang pesan bahwa selama masih ada orang yang bekerja, berkarya, dan saling menopang, kehidupan akan terus berjalan.

“Tong masih di sini” — tetap bekerja, tetap bertahan, dan tetap menghidupkan tanah Papua.  

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini