“Puisi Selingkuh A. Slamet Widodo: Bikin Tertawa, Tapi Diam-Diam Menampar Kehidupan”.

0

BANDUNG — Bagaimana jika perselingkuhan, konflik rumah tangga, dan berbagai problem kehidupan justru dibicarakan lewat puisi yang membuat orang tertawa?

Pertanyaan itu menemukan jawabannya dalam Selingkuh, kumpulan puisi karya A. Slamet Widodo, yang kembali diperbincangkan dalam acara bedah buku di Perpustakaan Ajip Rosidi (Kafe Jante), Bandung, 11 September 2026.

Bukan sekadar membahas soal hubungan asmara, Selingkuh membawa pembaca masuk ke wilayah yang lebih luas: tentang perilaku manusia, kehidupan sosial, kelemahan, godaan, hingga konsekuensi dari sebuah pilihan.

Dengan bahasa lugas, sederhana dan penuh humor, A. Slamet Widodo mengajak pembaca melihat persoalan serius dari sisi yang berbeda.

Tertawa boleh. Tetapi setelah itu, pembaca dibuat berpikir.

Antologi yang terbit pada Desember 2007 melalui Precil Production ini memuat 23 puisi. Salah satu kekuatannya terletak pada cara penyair mengolah realitas kehidupan sehari-hari menjadi puisi yang ringan, naratif dan mudah dicerna.

Judul Selingkuh sendiri sudah menjadi pintu masuk untuk memahami gaya kepenyairan A. Slamet Widodo.

Dalam puisinya, ia memainkan kata dan makna dengan cara yang jenaka. Perselingkuhan yang sebenarnya merupakan persoalan serius justru dibongkar melalui humor dan parodi.

selingkuh itu enaknya sementara tapi tak terbatas akibatnya”

Kalimat sederhana tersebut menjadi semacam tamparan yang disampaikan dengan senyum.

Sebab, di balik kelucuan itu ada pesan tentang konsekuensi. Sesuatu yang mungkin terasa menyenangkan untuk sementara, bisa menghadirkan persoalan panjang ketika kepercayaan dan komitmen dilanggar.

Humor Jadi Senjata Kritik

Dalam acara bedah buku tersebut, sejumlah puisi A. Slamet Widodo bahkan diterjemahkan ke dalam pertunjukan teater pendek oleh kelompok JBK.

Empat penari dan seorang tokoh sentral laki-laki tampil membawa suasana puisi ke atas panggung. Potret kehidupan masyarakat ditampilkan secara jenaka, seperti sebuah pertunjukan yang mengajak penonton tertawa.

Namun, di balik kelucuan tersebut tersimpan kritik terhadap realitas kehidupan.

Humor menjadi semacam “senjata” yang tidak terasa menggurui. Penonton tertawa terlebih dahulu, kemudian perlahan menyadari bahwa apa yang ditertawakan sebenarnya merupakan bagian dari persoalan yang ada di sekitar mereka.

Di sinilah kekuatan parodi A. Slamet Widodo.

Ia tidak harus mengatakan, “ini salah” atau “ini benar”. Tokoh dan peristiwa dalam puisinya justru dibiarkan berbicara sendiri. Pembaca kemudian diberi ruang untuk menilai.

Puisi yang Terasa Seperti Cerita

Menariknya, meskipun berbentuk puisi, sejumlah karya dalam Selingkuh memiliki karakter naratif.

Ada tokoh, situasi, konflik dan peristiwa. Bahasa yang digunakan juga dekat dengan percakapan sehari-hari.

Pembaca seperti sedang mendengarkan seseorang bercerita tentang kehidupan.

Kedekatan tersebut membuat puisi A. Slamet Widodo terasa tidak berjarak. Persoalan yang dibicarakan bukan sesuatu yang abstrak, melainkan realitas yang mungkin pernah dilihat, dialami atau bahkan dirasakan sendiri oleh pembaca.

Sumber penciptaannya pun dekat dengan kehidupan manusia: hubungan antarmanusia, kebiasaan masyarakat, persoalan rumah tangga dan berbagai fenomena sosial.

Bukan Sekadar Soal Perselingkuhan

Meski judulnya Selingkuh, makna buku ini sebenarnya jauh lebih luas.

Perselingkuhan dapat dibaca sebagai gambaran tentang kelemahan manusia ketika berhadapan dengan keinginan dan godaan.

Manusia selalu dihadapkan pada pilihan. Ada keinginan pribadi di satu sisi, sementara di sisi lain terdapat komitmen dan tanggung jawab.

Ketika pilihan keliru diambil, konsekuensinya bisa panjang.

Karena itu, Selingkuh tidak hanya berbicara tentang laki-laki atau perempuan yang tidak setia. Ia juga berbicara tentang kejujuran, kepercayaan, tanggung jawab dan bagaimana manusia berhadapan dengan dirinya sendiri.

Saat Pembaca Ditertawakan oleh Puisi

Yang menarik, humor dalam karya A. Slamet Widodo tidak berhenti sebagai hiburan.

Pembaca mungkin awalnya menertawakan tingkah laku tokoh dalam puisi. Tetapi setelah membaca lebih jauh, muncul kemungkinan bahwa yang sebenarnya sedang ditertawakan adalah perilaku manusia secara umum—termasuk diri sendiri.

Itulah mengapa humor dalam Selingkuh terasa berbeda.

Tawanya ringan, tetapi kritiknya bisa terasa dalam.

Sastra akhirnya tidak harus selalu tampil dengan wajah serius. Kritik sosial juga tidak selalu harus disampaikan melalui kemarahan. Kadang, sebuah persoalan justru lebih mudah diterima ketika disampaikan melalui humor.

Dan A. Slamet Widodo membuktikan hal itu melalui Selingkuh.

Buku ini mengajak pembaca tertawa, tetapi tidak membiarkan pembaca berhenti pada tawa.

Sebab, setelah tawa reda, ada pertanyaan yang tersisa: Jangan-jangan, yang sedang kita tertawakan itu adalah wajah kehidupan kita sendiri?

Bedah buku Selingkuh di Perpustakaan Ajip Rosidi Bandung pun akhirnya menjadi lebih dari sekadar pembicaraan tentang sebuah kumpulan puisi. Ia menjadi ruang untuk membaca kembali kehidupan melalui humor, parodi dan kritik sosial.*

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini