Angkat Budaya Lokal, Desainer Lusi Umbora Edukasi Generasi Muda Lewat Fashion Etnik Modern

0

JAYAPURA — Industri fashion di Tanah Papua terus menunjukkan perkembangannya melalui sentuhan inovasi yang modern namun tetap mengakar pada tradisi. Melalui kolaborasi bersama Afianti Mandosir dan Jean Maryen yang telah berintrikasi sejak 2023, desainer Lusi Umbora menghadirkan rancangan busana berkonsep modern ethnic yang tidak hanya bernilai komersial, tetapi juga sarat akan pesan edukasi budaya dan kelestarian alam.

Koleksi busana yang ditampilkan saat Impact Papua didominasi oleh warna-warna hangat khas tanah seperti oranye, merah, dan kuning. Setiap busana diperkaya dengan detail ukiran, motif geometris, rumbai, kerang, hingga bordir burung Cendrawasih. Beragam siluet ditawarkan untuk mempresentasikan identitas Papua yang dinamis, mulai dari jubah, mantel, vest, gaun panjang, hingga padu padan atasan etnik dengan jeans.

Lusi Umbora menegaskan pentingnya membedakan antara busana sakral untuk momen adat dan busana yang telah dikomersialkan untuk kebutuhan fashion modern.

Menurutnya, pemanfaatan motif dan bahan lokal secara modern menjadi jembatan untuk memperkenalkan budaya Papua ke lingkup yang lebih luas tanpa merusak tatanan adat.

Inovasi dan Pelestarian Alam

Salah satu sorotan utama dalam peragaan ini adalah penggunaan bahan substitusi ramah lingkungan, seperti imitasi kulit untuk menggantikan kulit kayu asli. Langkah ini diambil sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian hutan Papua.

“Kalau kita selalu tebang pohon untuk habiskan kulit kayu, bagaimana generasi penerus bisa melihatnya nanti? Penggunaan imitasi kulit ini adalah upaya edukasi bahwa kita tidak harus selalu merusak alam untuk berkarya,” tegas Lusi.

Edukasi Budaya Lewat Storytelling

Tak sekadar merancang pakaian, Lusi memanfaatkan karyanya sebagai media storytelling bagi generasi muda. Salah satu rancangannya yang memadukan warna kuning dan cokelat terinspirasi dari keberadaan burung Cendrawasih betina—suatu hal yang kerap kurang dipahami oleh generasi muda yang lebih mengenali karakteristik Cendrawasih jantan.

Melalui pendekatan ini, Lusi Umbora berharap masyarakat, khususnya generasi muda dan para pelaku industri kreatif, dapat memahami fungsi serta etika dalam berbusana etnik: mengetahui kapan sebuah karya berfungsi sebagai representasi budaya yang komersial, dan kapan suatu atribut harus dihormati sebagai simbol adat yang sakral.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini