JAYAPURA — Benang rajut di tangan Margareta Wopari Uktolseya bukan sekadar dirangkai menjadi pakaian. Dari keterampilan yang ditekuninya sejak 2016, ia menghadirkan karya fashion yang memadukan kreativitas modern dengan kekayaan alam dan budaya Papua, itulah yang ditampilkan Mosaba Fashion saat Fashion show Impact Papua di halaman Musium Uncen Jayapura.
Melalui Mosaba Fashion, Margareta mengolah berbagai material lokal menjadi busana dan aksesori yang memiliki karakter khas. Serat alam, kulit kayu, manik-manik hutan, kerang kauri, bulu ayam, biji-bijian hingga bunga kurulu menjadi bagian dari eksplorasi kreatifnya.
Material-material tersebut kemudian dipadukan dengan teknik rajutan untuk menciptakan busana yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga membawa cerita tentang Papua.
Bagi Margareta, mengembangkan fashion berbasis budaya lokal merupakan cara untuk memperkenalkan kekayaan Papua melalui medium yang dekat dengan kehidupan generasi masa kini.
Dari Hobi Menjadi Brand Fashion
Perjalanan Margareta bersama Mosaba Fashion tidak langsung dimulai sebagai bisnis. Selama beberapa tahun, aktivitas merajut lebih banyak dilakukan sebagai bagian dari kecintaannya terhadap keterampilan tersebut.
Baru pada 2023, ia mulai membawa kegiatan tersebut ke arah yang lebih profesional. Ajang Noken Street di Wamena menjadi salah satu momentum yang mendorong Margareta mengembangkan karya rajutnya menjadi sebuah brand fashion.
Sejak itu, ia terus bereksperimen dengan pola, bentuk dan material. Proses pembuatan busana dilakukan secara teliti karena setiap bagian membutuhkan perhitungan yang tepat.
Satu helai baju rajut, kata Margareta, paling cepat membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk diselesaikan. Pembuatan pola menjadi salah satu tahap penting karena jumlah rajutan pada bagian depan dan belakang harus seimbang.
Begitu pula dengan bagian lengan. Hitungan rajutan pada sisi kiri dan kanan harus dibuat proporsional agar busana nyaman saat dikenakan.
“Merajut itu bukan hanya soal memasukkan benang. Kita juga harus menghitung dan membuat pola dengan tepat supaya hasilnya sesuai dan nyaman dipakai,” ujar Margareta.
Mengajak Generasi Muda Berani Berkarya
Margareta berharap keterampilan merajut dapat semakin dikenal dan diminati generasi muda Papua. Ia mendorong anak-anak muda yang tertarik dengan dunia fashion maupun kerajinan untuk berani memulai tanpa takut melakukan kesalahan.
Menurutnya, kemampuan tidak akan datang secara instan. Dibutuhkan latihan dan ketekunan agar seseorang dapat menguasai teknik merajut sekaligus mengembangkan kreativitasnya.
“Jangan takut mulai. Kalau awalnya belum bagus atau masih sering salah, itu bagian dari proses belajar. Yang penting terus mencoba,” katanya.
Ia juga melihat keterampilan merajut memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi usaha kreatif. Dengan menggabungkan teknik modern dan material khas Papua, perajin dapat menciptakan produk yang memiliki ciri khas sekaligus nilai ekonomi.
Melalui Mosaba Fashion, Margareta ingin membuktikan bahwa kekayaan Papua dapat diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk karya kreatif. Rajutan pun menjadi salah satu cara untuk menjaga identitas budaya sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat yang lebih luas.**









































