1.000 Artefak Papua Dipulangkan dari Amerika Serikat, Museum Uncen Catat Sejarah Baru Repatriasi Mandiri

0
Penyerahan artefak secara simbolis dari perwakilan adat kepada Wakil Rektor II Universitas Cenderawasih Ferdinand Risamasu.

JAYAPURA – Sebuah tonggak penting dalam upaya pelestarian warisan budaya Papua tercatat di Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih (Uncen). Sebanyak 1.000 artefak Papua, sekitar 20 ribu lembar foto, serta lebih dari 100 rekaman suara yang sebagian besar berasal dari wilayah Lapago dan Meepago resmi dipulangkan dari Amerika Serikat dan diserahkan kepada Museum Loka Budaya Uncen, Kamis (6/8/2026).

Seluruh koleksi tersebut merupakan hasil dokumentasi dan arsip pribadi peneliti asal Amerika Serikat, O.W. (Bud) Hampton, yang melakukan penelitian di kawasan pegunungan Papua pada periode 1977 hingga 1999.

Pemulangan koleksi budaya ini menjadi momentum bersejarah karena merupakan repatriasi pertama di Indonesia yang dilakukan secara mandiri menggunakan skema state-to-community, yakni pemulangan koleksi budaya secara langsung dari lembaga di luar negeri kepada komunitas lokal tanpa melalui mekanisme antarnegara.

Kepala sekaligus Kurator Museum Loka Budaya Uncen, Enrico Yory Kondologit, mengatakan proses repatriasi tersebut bukanlah perjalanan yang singkat. Meski Nota Kesepahaman (MoU) telah ditandatangani sejak 2023, koleksi tersebut baru berhasil tiba di Papua pada pertengahan 2026 setelah melalui berbagai tahapan administrasi internasional.

“Prosesnya panjang bukan karena kita tidak mampu, melainkan karena urusan administrasi antarnegara yang sangat rumit. Ini menjadi pembelajaran pertama bagi kami dalam melakukan repatriasi secara mandiri,” ujar Enrico.

Menurutnya, repatriasi merupakan bagian dari kebijakan internasional UNESCO yang mendorong rekonsiliasi serta pemulihan hak masyarakat atas benda-benda budaya yang berada di luar wilayah asalnya.

Enrico berharap model repatriasi state-to-community yang berhasil dilakukan Museum Loka Budaya Uncen dapat menjadi contoh bagi upaya pemulangan benda-benda budaya lainnya, baik di Indonesia maupun di tingkat internasional.

Ia mengungkapkan, berdasarkan hasil pemetaan, diperkirakan masih terdapat sekitar 50 ribu hingga 57 ribu artefak Papua yang tersimpan di berbagai museum dan kolektor di berbagai negara. Selain itu, lebih dari 2.500 sampel kerangka manusia asal Papua juga masih berada di luar negeri untuk kepentingan penelitian.

“Kami berharap keberhasilan ini menjadi awal bagi pemulangan koleksi-koleksi Papua lainnya. Namun hal itu membutuhkan kesiapan fasilitas, sumber daya manusia, serta dukungan pemerintah agar proses repatriasi berikutnya dapat berjalan lebih baik,” katanya.

Enrico juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Tolikara yang telah memberikan dukungan pendanaan pada tahap awal sehingga proses repatriasi dari Amerika Serikat dapat terlaksana.

Sementara itu, Wakil Rektor II Universitas Cenderawasih, Ferdinand Risamasu, menyambut baik kembalinya ribuan koleksi budaya tersebut ke tanah Papua. Menurutnya, keberadaan artefak, foto, dan rekaman suara ini akan memperkaya koleksi Museum Loka Budaya Uncen sekaligus menjadi sumber pembelajaran bagi masyarakat dan generasi muda.

“Koleksi ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Kami berharap keberadaannya dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi, penelitian, serta memperkuat identitas budaya Papua bagi generasi sekarang maupun yang akan datang,” ujarnya.

Repatriasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa warisan budaya bukan sekadar benda bersejarah, tetapi juga bagian dari identitas dan memori kolektif masyarakat Papua yang perlu dijaga, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. **

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini