Festival Etnik Religi Tolikara Dinilai Dorong Generasi Muda dan Ekonomi Lokal

0

TOLIKARA — Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Amanat Nasional (PAN) Provinsi Papua Pegunungan mengapresiasi pelaksanaan Festival Etnik Religi yang digelar Pemerintah Kabupaten Tolikara. Festival tersebut dinilai tidak hanya menjadi ruang untuk memperkuat nilai-nilai iman dan budaya, tetapi juga memberikan dampak positif bagi generasi muda serta pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Ketua DPW PAN Papua Pegunungan, Sinut Busup, mengatakan pelaksanaan Festival Etnik Religi merupakan langkah positif Pemerintah Kabupaten Tolikara dalam membangun karakter generasi muda sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.

“Sangat luar biasa Pemerintah Kabupaten Tolikara melaksanakan suatu event besar, yaitu Festival Etnik Religi. Ini sangat berdampak positif bagi generasi emas, khususnya generasi muda dan umumnya bagi seluruh masyarakat Tolikara,” ujar Sinut, Minggu (14/08) di Jayapura.

Sinut mengaku menyaksikan langsung pembukaan festival yang berlangsung di Lapangan Merah Putih, Karubaga. Ia mengapresiasi pesan yang disampaikan Bupati Tolikara dalam sambutannya yang dinilai mampu membangkitkan semangat generasi muda untuk terus menjaga iman, sejarah, dan identitas masyarakat Tolikara.

“Saya hadir sebagai anak rohani. Sambutan Bapak Bupati luar biasa, membakar semangat generasi emas Tolikara,” katanya.

Menurut Sinut, pelaksanaan festival juga menjadi momentum untuk kembali mengingat sejarah masuknya Injil di wilayah Tolikara. Ia menilai sejarah tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat setempat menerima kehadiran para misionaris dan kemudian menjadikan nilai-nilai keimanan sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat.

Ia mengungkapkan, berdasarkan sejarah yang diketahuinya, sekitar tahun 1953–1954 para misionaris membawa Injil ke wilayah tersebut. Masyarakat menerima kehadiran mereka, bahkan hidup bersama dan membantu memenuhi kebutuhan para misionaris.

“Mereka tidak menolak, mereka menerima langsung. Mereka memasak, memberikan makanan kepada para misionaris, makan bersama dan tidur bersama. Besok paginya mereka langsung membuka dan mengukur lapangan terbang perintis di lokasi yang sekarang disebut Jalan Ampera,” tutur Sinut.

Bagi Sinut, perjalanan sejarah tersebut menjadi bagian dari bukti bagaimana masyarakat Tolikara terus berkembang dalam pelayanan keagamaan. Menurutnya, banyak orang Tolikara kini dipercaya untuk melayani dan menginjili, bukan hanya di Papua, tetapi hingga ke luar negeri.

“Orang Tolikara dipakai oleh hikmat Tuhan untuk melayani dan menginjili dari Papua sampai ke luar negeri. Hanya karena kekuatan Allah. Manusia boleh menjatuhkan dengan kepribadian, tetapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil,” ujarnya.

Ia menambahkan, pesan penting yang dapat diambil dari festival tersebut adalah pentingnya kerendahan hati, kasih, dan persatuan di tengah perbedaan.

“Bagi mereka yang merendahkan hati, imbangi dengan kasih. Kasih itu bisa menembus perbedaan,” katanya.

Festival Jadi Ruang Pertumbuhan Ekonomi

Selain aspek keagamaan dan kebudayaan, Sinut juga menyoroti dampak ekonomi dari penyelenggaraan Festival Etnik Religi.

Menurutnya, pemerintah daerah telah memberikan ruang kepada masyarakat untuk terlibat langsung dalam festival melalui pameran berbagai produk, ornamen budaya, serta barang dagangan dari masyarakat lokal maupun peserta dari luar daerah.

Ia menyebut antusiasme masyarakat terlihat dari cepatnya sejumlah barang dagangan yang terjual.

“Dagangan yang dijual tidak sampai satu jam sudah terjual habis. Ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi mikro yang sangat positif bagi pedagang setempat,” ungkapnya.

Sinut berharap konsep serupa dapat dikembangkan di tujuh kabupaten lainnya di Papua Pegunungan. Menurut dia, festival yang menggabungkan unsur budaya, religi, dan ekonomi masyarakat dapat menjadi salah satu strategi untuk menggerakkan ekonomi lokal.

“Kalau boleh, tujuh kabupaten lainnya juga ikut melaksanakan kegiatan seperti ini agar pertumbuhan ekonomi lokal semakin menguntungkan bagi masyarakat,” katanya.

Ia juga mendorong Pemerintah Kabupaten Tolikara agar Festival Etnik Religi tidak hanya dilaksanakan sebagai kegiatan sesaat, tetapi dimasukkan dalam agenda resmi pemerintah daerah untuk tahun-tahun mendatang.

“Kami berpesan kepada Pemerintah Kabupaten Tolikara agar kegiatan ini masuk dalam kalender pemerintah untuk tahun-tahun yang akan datang,” pungkas Sinut.**

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini