JAYAPURA – “Tak ada kehidupan yang berjalan sendirian
Mereka tak pernah bertemu.
Mereka tak saling mengenal satu sama lain
Namun setiap hari, mereka saling terhubung dalam satu rantai ekonomi”
Itulah pesan yang coba disampaikan oleh film dokumenter terbaru garapan Imaji Papua berjudul Tong Masih Disini. Sedikit berbeda dari narasi Papua oleh media yang selama ini lebih banyak mengangkat tentang konflik, film Tong Masih di Sini mengajak penonton melihat sisi lain Papua melalui kisah-kisah sederhana yang terjadi setiap hari.
Film ini mengikuti perjalanan petani kopi di Tiom hingga pelaku usaha kopi di Wamena, petani sayur di Lembah Baliem, penokok sagu di Merauke, penjual pinang di Kota Jayapura.
Film arahan sutradara Yulika Anastasia ini mengangkat kisah inspiratif para pelaku ekonomi lokal dari hulu ke hilir. Ada 4 figur yang diangkat dalam film ini yakni Moses Yigibalom (Petani & Pengusaha Kopi di Wamena), Wene Kalolik (Petani & Tenaga Honorer di Wamena), Mama Agustina Rontini (Penjual Pinang di Jayapura) dan Yakobus Yatmop (Ketua Kelompok Tani Sagu di Merauke).
“Keempat tokoh dalam film yang kami angkat, mereka tak mengenal satu sama lain, namun terhubung dalam rantai ekonomi,” kata Yulika.
Lebih lanjut Yulika menjelaskan sagu, pinang, sayur dan kopi merupakan hasil alam Papua yang mengakar dalam budaya dan tradisi masyarakat asli Papua.
Melalui pendekatan human interest, film ini memperlihatkan bagaimana kopi, sayur, sagu, dan pinang bukan sekadar komoditas, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang menghubungkan manusia dengan alam. Setiap pekerjaan, sekecil apa pun, memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan, ekonomi lokal, dan masa depan Papua.
Yulika Anastasia, mengatakan bahwa Tong Masih di Sini lahir dari keinginan untuk menghadirkan cara pandang yang lebih dekat terhadap kehidupan masyarakat.
“Kami percaya tidak ada kehidupan yang berjalan sendirian. Di balik secangkir kopi yang kita nikmati, ada petani, pengangkut, pedagang, hingga penjual yang bekerja setiap hari. Film ini mengajak kita melihat bahwa kehidupan di Papua dibangun oleh rantai kerja yang saling menguatkan.”
Film ini sekaligus menjadi ajakan untuk lebih menghargai pangan lokal, para pelaku ekonomi rakyat, serta hubungan yang terjalin antara manusia dan lingkungan.
Dengan sinematografi yang menampilkan bentang alam Papua dan kisah-kisah autentik dari masyarakat, Tong Masih di Sini diharapkan dapat memperluas perspektif publik mengenai Papua sebagai ruang kehidupan yang dibangun oleh kerja nyata, kehidupan yang saling terhubung satu sama lain seiring dengan arus globalisasi, dan harapan akan masa depan yang berkelanjutan.
Film Tong Masih Disini akan diluncurkan pada event Impact Papua: Film, Culture & Creativity yang akan diselenggarakan pada tanggal 12 Agustus 2026 di Halaman Museum Loka Budaya, Universitas Cenderawasih, Jayapura bertepatan dengan Hari Pemuda Internasional.**








































