JAYAPURA – Wakil Gubernur Papua Aryoko Rumaropen mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat upaya pelestarian bahasa daerah sebagai warisan leluhur sekaligus identitas bangsa. Ia mengingatkan, hilangnya sebuah bahasa tidak hanya berarti lenyapnya kosakata, tetapi juga hilangnya pengetahuan, nilai-nilai kehidupan, dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Hal tersebut disampaikan Aryoko saat memberikan sambutan dalam Kongres Bahasa Daerah ke 1 yang digelar di Jayapura, Senin (19/10/2026).
“Bagi masyarakat Papua, pusaka bukan sekadar peninggalan leluhur. Pusaka adalah amanah yang harus dijaga, dihormati, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” kata Aryoko.
Menurutnya, bahasa daerah memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat Papua. Bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga menyimpan sejarah leluhur, pengetahuan tentang alam, petuah adat, doa, serta nilai-nilai yang membentuk identitas suatu komunitas.
“Ketika sebuah bahasa kehilangan penuturnya, kita bukan hanya kehilangan kata-kata, tetapi juga kehilangan sebagian pengetahuan dan kebijaksanaan yang tidak mudah digantikan,” ujarnya.
Aryoko menyebut Tanah Papua memiliki kekayaan bahasa daerah yang luar biasa. Berdasarkan data dalam materi kongres, dari 729 bahasa daerah di Indonesia, sebanyak 428 di antaranya terdapat di Tanah Papua.
Besarnya kekayaan tersebut, kata dia, merupakan anugerah sekaligus tanggung jawab yang harus dijaga bersama agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Namun, ia mengingatkan bahwa keberlangsungan bahasa daerah menghadapi berbagai tantangan. Perubahan zaman, globalisasi, perkembangan teknologi, hingga semakin berkurangnya penggunaan bahasa ibu di lingkungan keluarga dapat memengaruhi keberadaan bahasa daerah.
Karena itu, Aryoko menegaskan bahwa pelestarian bahasa tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial atau sekadar menjadi agenda tahunan. Diperlukan langkah nyata melalui kebijakan yang terarah, dukungan anggaran, tenaga yang kompeten, serta keterlibatan aktif masyarakat.
“Kita membutuhkan kebijakan yang nyata, dukungan anggaran, tenaga yang kompeten, serta keterlibatan aktif masyarakat,” tegasnya.
Ia berharap kongres tersebut dapat menghasilkan rekomendasi konkret yang bisa diterapkan secara berkelanjutan. Pemerintah pusat dan daerah, menurutnya, perlu memperkuat koordinasi serta menyusun program pelindungan bahasa yang mendorong penggunaannya dalam keluarga, pendidikan, kegiatan adat, dan ruang publik sesuai konteks masing-masing.
Aryoko juga menekankan bahwa pelestarian bahasa daerah membutuhkan peran bersama, mulai dari guru, akademisi, tokoh adat, tokoh agama, komunitas budaya, media, perempuan, hingga generasi muda.
Menurutnya, keluarga menjadi salah satu lingkungan paling penting dalam menjaga keberlangsungan bahasa ibu. Orang tua diharapkan membiasakan anak-anak menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, sekolah dapat menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bahasa daerah.
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital juga perlu dimanfaatkan sebagai sarana pelindungan bahasa, antara lain melalui dokumentasi kosakata, cerita rakyat, nyanyian tradisional, dan pengetahuan lokal agar tetap dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
“Orang tua perlu mewariskan bahasa ibu kepada anak-anaknya. Sekolah dapat menumbuhkan kebanggaan terhadap bahasa daerah. Sementara itu, teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk mendokumentasikan kosakata, cerita rakyat, nyanyian, dan pengetahuan lokal agar dapat dipelajari oleh generasi mendatang,” jelasnya.
Lebih lanjut, Aryoko mengatakan upaya pelestarian bahasa daerah sejalan dengan visi Pemerintah Provinsi Papua, yakni “Terwujudnya Transformasi Papua yang Cerdas, Sejahtera dan Harmoni (Papua CERAH).”
Ia menjelaskan, Papua Cerdas tidak hanya berkaitan dengan pembangunan generasi yang berpengetahuan, tetapi juga generasi yang memahami akar budayanya. Papua Sejahtera berarti memastikan kekayaan budaya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang bermartabat, sedangkan Papua Harmoni berarti merawat keberagaman sebagai kekuatan persaudaraan dan persatuan.
“Kita ingin generasi muda Papua maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kehilangan jati dirinya. Kita ingin mereka mampu bersaing di tingkat nasional dan global, tetapi tetap bangga menggunakan bahasa ibu serta menghormati adat dan budaya leluhurnya,” ungkap Aryoko.
Ia berharap kongres tersebut tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga menghasilkan rekomendasi kebijakan yang terukur, dapat diterapkan, dan berkelanjutan.
Aryoko menegaskan, pelestarian bahasa daerah merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan komitmen seluruh pihak, baik pemerintah maupun masyarakat.
“Pelestarian bahasa daerah bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau komunitas tertentu, melainkan tanggung jawab nasional yang harus kita kerjakan bersama,” pungkasnya.*








































