JAYAPURA – Wali Kota Jayapura, Abisay Rollo, mengapresiasi kegiatan Bincang Sagu yang melibatkan generasi muda dari berbagai latar belakang, termasuk penyandang disabilitas, kreator konten, hingga petani muda yang sukses mengembangkan usaha di bidang pertanian.
Menurut Abisay, kegiatan yang digelar dalam momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober, tersebut menjadi ruang inspiratif bagi generasi muda untuk mengenali potensi diri, membangun kepercayaan diri, serta berani menentukan masa depan melalui berbagai bidang pekerjaan dan usaha.
Ia menilai, kegiatan yang mempertemukan enam sosok inspiratif itu merupakan langkah positif untuk menunjukkan bahwa setiap anak muda memiliki kemampuan dan kesempatan yang sama untuk berkembang.
“Luar biasa kegiatan ini. Saya harap kegiatan yang dibuat ini dapat memberikan inspirasi kepada pemuda-pemudi kita yang ada di Kota Jayapura. Saya yakin semua anak-anak itu punya bakat,” ujar Abisay saat menghadiri kegiatan Bincang Sagu bersama generasi muda di Jayapura, Rabu (28/10).
Ia mengatakan, keberhasilan seseorang tidak harus ditempuh melalui jalur pekerjaan formal sebagai aparatur sipil negara (ASN). Generasi muda juga dapat meraih masa depan melalui kewirausahaan, pertanian, industri kreatif, maupun bidang lainnya sesuai dengan potensi yang dimiliki.
Abisay mencontohkan sosok petani muda yang hadir dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, pilihan menjadi petani bukanlah sesuatu yang perlu dipandang sebelah mata, sebab sektor pertanian dapat menjadi sumber penghidupan sekaligus peluang untuk membangun kemandirian ekonomi.
“Dia tidak berpikir harus menjadi pegawai atau bekerja di bidang tertentu. Dia berpikir, biar saya menjadi petani, tetapi hasil yang saya kerjakan bisa menghidupi saya,” tuturnya.
Ia berharap pengalaman para narasumber dapat memotivasi generasi muda Papua agar tidak takut mencoba, terus mengembangkan kemampuan, dan berani mengambil peluang yang tersedia.
Abisay juga mengingatkan anak-anak muda agar menjauhi narkoba, ganja, serta berbagai perilaku negatif yang dapat merusak masa depan.
Menurutnya, generasi muda harus memiliki semangat untuk terus belajar dan berkarya karena mereka merupakan harapan bagi keluarga, masyarakat, Tanah Papua, dan bangsa Indonesia.
“Yang penting tetap semangat dan bersyukur. Apa pun yang nanti kita capai, itulah yang dikehendaki Tuhan. Jadilah anak-anak yang terbaik dan menjadi harapan bagi bangsa, Tanah Papua, serta masyarakat Kota Jayapura,” katanya.
Dorong Kegiatan Inklusif bagi Penyandang Disabilitas
Abisay turut mengapresiasi keterlibatan penyandang disabilitas dalam kegiatan tersebut. Baginya, kesempatan untuk tampil, berbagi pengalaman, dan menginspirasi masyarakat perlu diberikan kepada semua orang tanpa membedakan kondisi fisik maupun keterbatasan yang dimiliki.
Ia menegaskan bahwa penyandang disabilitas juga mempunyai kelebihan, kemampuan, dan potensi yang dapat dikembangkan apabila memperoleh kesempatan dan dukungan yang memadai.
“Mereka punya kekurangan, tetapi mereka juga punya kelebihan. Karena itu, mereka harus diperhatikan. Bukan berarti karena disabilitas, lalu mereka tidak diperhatikan,” tegasnya.
Wali Kota berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dengan melibatkan lebih banyak kelompok masyarakat, sehingga semakin banyak anak muda yang memperoleh ruang untuk menunjukkan kemampuan dan berpartisipasi dalam pembangunan.
Menurutnya, kegiatan yang inklusif tidak hanya memberikan motivasi kepada peserta, tetapi juga membantu masyarakat melihat potensi penyandang disabilitas dari sudut pandang yang lebih positif.
Sagu, Identitas dan Sumber Kehidupan Masyarakat Papua
Selain mendorong kemandirian generasi muda, Abisay juga menekankan pentingnya menjaga keberadaan sagu sebagai pangan lokal sekaligus bagian dari kehidupan masyarakat Papua.
Ia mengungkapkan, sagu memiliki nilai penting karena telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak dahulu. Bahkan, pemanfaatan pohon sagu tidak terbatas pada bahan pangan, tetapi juga mencakup berbagai kebutuhan rumah tangga.
“Sagu itu hidup, memberi kita hidup. Saya sendiri sejak kecil makan sagu. Sagu memiliki banyak fungsi. Isinya bisa diolah menjadi makanan, kulitnya bisa dimanfaatkan untuk lantai, daunnya untuk atap, dan tulangnya bisa digunakan untuk membuat tempat papeda,” jelasnya.
Menurut Abisay, kekayaan manfaat tersebut menunjukkan bahwa sagu memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan, baik dalam pelestarian budaya maupun sebagai peluang ekonomi bagi masyarakat.
Ia berharap generasi muda tidak hanya mengenal sagu sebagai makanan tradisional, tetapi juga mampu melihat peluang inovasi dan usaha dari pemanfaatan pangan lokal tersebut.
Melalui kegiatan Bincang Sagu, Abisay berharap semangat Sumpah Pemuda dapat diwujudkan dalam tindakan nyata, yakni dengan membangun generasi muda yang mandiri, kreatif, inklusif, dan mampu memanfaatkan potensi lokal untuk masa depan.
Ia menegaskan bahwa setiap anak muda memiliki kesempatan untuk berhasil selama terus berusaha, bersyukur, dan tidak menyerah dalam mengembangkan potensi diri.**








































