JAYAPURA – Bupati Lanny Jaya, Aletinus Yigibalom, mengajak pemerintah daerah, tenaga pendidik, dan orang tua untuk memperkuat upaya pelestarian bahasa daerah, terutama di kalangan generasi muda. Menurutnya, bahasa ibu merupakan bagian penting dari identitas budaya yang perlu diwariskan kepada anak-anak sejak dini.
Aletinus mengatakan, Papua memiliki hampir 400 bahasa daerah yang menjadi kekayaan budaya masyarakat. Namun, di tengah perkembangan zaman, penggunaan sejumlah bahasa daerah mulai berkurang, khususnya di wilayah perkotaan.
“Sebagai kepala daerah di Papua, saya pikir bagaimana kita kembali melestarikan bahasa daerah sesuai dengan karakter budaya masing-masing. Ini menjadi tanggung jawab bersama agar bahasa ibu tetap hidup dan digunakan oleh generasi berikutnya,” Kata Aletinus, Senin (19/10) usai pembukaan Kongres Bahasa Daerah di Sasana Krida Jayapura.
Ia menilai, salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah semakin jarangnya anak-anak menggunakan bahasa ibu dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah daerah bersama orang tua agar bahasa daerah tidak semakin ditinggalkan.
Menurutnya, orang tua memiliki peran penting dalam membiasakan anak-anak menggunakan bahasa daerah di lingkungan keluarga. Sementara itu, pemerintah daerah perlu memperkuat program pelestarian melalui sektor pendidikan dan kebudayaan.
Aletinus menjelaskan, penggunaan bahasa ibu masih cukup terlihat dalam proses pembelajaran di kelas-kelas awal sekolah dasar di Lanny Jaya. Bahasa daerah kerap digunakan sebagai bahasa pengantar untuk membantu siswa memahami materi pelajaran.
“Di kelas-kelas bawah, seperti kelas satu, dua, dan tiga, penggunaan bahasa ibu sebagai pengantar masih banyak dilakukan. Karena itu, peran Dinas Pendidikan penting untuk terus mengembangkan pembelajaran bahasa daerah melalui muatan lokal,” katanya.
Ia memperkirakan penggunaan bahasa ibu di Lanny Jaya masih berada di kisaran 50 persen. Meski demikian, menurutnya, penggunaan bahasa daerah di wilayah perkotaan mulai mengalami penurunan.
Karena itu, Aletinus mendorong Dinas Pendidikan untuk memperkuat kembali pembelajaran bahasa daerah di sekolah, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga bahasa ibu.
Ia berharap momentum kegiatan yang mengangkat pentingnya bahasa ibu dapat menjadi pengingat bagi seluruh pihak untuk kembali memberi perhatian terhadap keberlangsungan bahasa daerah.
“Bahasa ibu ini penting. Kita mungkin mulai lupa, tetapi harus diingatkan kembali. Saya pikir kita perlu membangkitkan semangat untuk melestarikan bahasa daerah dan mengajak Dinas Pendidikan agar lebih memperkuat upaya tersebut,” ujarnya.
Menurut Aletinus, pelestarian bahasa daerah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dengan demikian, bahasa ibu dapat terus digunakan dalam kehidupan sehari-hari sekaligus diwariskan kepada generasi muda Papua.*








































