JAYAPURA — Kekayaan pangan lokal Papua kembali mendapat perhatian melalui kampanye makan sagu dalam kegiatan Tarung Tiga yang berlangsung di BM Cofee, Kota Raja, Jayapura, Minggu (25/10/2026). Olahan sagu bakar yang disajikan dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus menjaga eksistensi pangan tradisional Papua, terutama di kalangan generasi muda.
Kampanye ini digerakkan oleh Komunitas Colo Sagu yang terus mendorong masyarakat untuk mengenal, mengonsumsi, dan mencintai sagu sebagai bagian dari warisan budaya dan pangan lokal Papua.
Di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat serta semakin beragamnya pilihan makanan, upaya memperkenalkan kembali sagu dinilai penting agar pangan tradisional tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kehadiran sagu dalam Tarung Tiga juga memperlihatkan bahwa pangan lokal dapat diperkenalkan melalui berbagai ruang publik, termasuk kegiatan kepemudaan yang mengedepankan kreativitas, persatuan, dan keberagaman.
Tarung Tiga tahun ini diselenggarakan melalui kolaborasi BM Cofee, Komunitas Colo Sagu, Polresta Jayapura Kota, serta Forum Pimpinan Redaksi Papua. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 tahun 2026.
Melalui kegiatan ini, kopi menjadi bagian dari kejuaraan yang memberikan ruang bagi peserta untuk menunjukkan kemampuan mereka. Sementara itu, sagu hadir sebagai sajian pangan lokal yang membawa pesan tentang pentingnya menjaga kekayaan kuliner dan identitas budaya Papua.
Mama Oce Felle, salah satu penyedia aneka olahan sagu dalam kegiatan tersebut, mengungkapkan kebanggaannya karena pangan tradisional Papua mendapat tempat dalam kegiatan yang melibatkan berbagai pihak itu.
“Saya merasa bangga karena sagu bisa hadir dalam kegiatan Tarung Tiga ini. Bagi kami, sagu bukan hanya makanan, tetapi juga bagian dari identitas dan budaya masyarakat Papua yang harus terus dijaga dan diperkenalkan kepada generasi muda,” ujar Mama Oce Felle.
Menurutnya, keterlibatan sagu dalam kegiatan publik seperti Tarung Tiga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan beragam olahan pangan lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
Melalui cara tersebut, makanan tradisional Papua diharapkan semakin dikenal dan dapat diterima oleh berbagai kalangan tanpa kehilangan nilai budaya yang melekat di dalamnya.
“Harapan saya, sagu semakin dikenal luas dan mendapat tempat di berbagai kegiatan. Kita punya banyak olahan sagu yang harus terus diperkenalkan agar generasi muda juga bangga dengan pangan lokal kita sendiri,” tambahnya.
Komunitas Colo Sagu Dorong Kecintaan terhadap Pangan Lokal
Kampanye makan sagu yang dilakukan Komunitas Colo Sagu menjadi salah satu upaya untuk menjaga keberlanjutan tradisi pangan masyarakat Papua.
Bagi masyarakat Papua, sagu tidak hanya berfungsi sebagai bahan makanan, tetapi juga berkaitan dengan pengetahuan lokal, kebiasaan hidup, serta warisan budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, kampanye makan sagu tidak sebatas mengajak masyarakat mengonsumsi makanan tradisional. Gerakan ini juga berupaya menumbuhkan kebanggaan terhadap pangan lokal, memperkenalkan berbagai bentuk olahan sagu, dan memastikan keberadaannya tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Kehadiran aneka olahan sagu dalam Tarung Tiga menjadi salah satu cara untuk mendekatkan pangan lokal kepada masyarakat, khususnya anak muda. Dengan memperkenalkannya melalui kegiatan yang terbuka dan melibatkan berbagai kalangan, sagu diharapkan tidak hanya dipandang sebagai makanan tradisional, tetapi juga tetap menjadi pilihan dalam kehidupan modern.
Papua memiliki kekayaan kuliner yang beragam. Penguatan konsumsi pangan lokal dapat menjadi salah satu langkah untuk menghargai potensi daerah sekaligus menjaga tradisi yang telah diwariskan selama bertahun-tahun.
Semakin luas masyarakat mengenal sagu dan berbagai cara pengolahannya, semakin terbuka pula kesempatan untuk mengembangkan kreativitas kuliner berbasis bahan pangan lokal tanpa meninggalkan akar budaya.
Juara Tarung Tiga Akan Berlaga di Kompetisi Kopi Nasional
Sementara itu, Ketua Panitia Kejuaraan Tarung Tiga, Faizal Kiem, mengatakan bahwa para juara dalam kejuaraan tersebut nantinya akan mengikuti kompetisi kopi tingkat nasional di Jakarta.
“Para juara dari kejuaraan Tarung Tiga ini nantinya akan mengikuti kompetisi kopi tingkat nasional di Jakarta. Ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk menunjukkan kemampuan mereka sekaligus membawa nama Papua ke tingkat nasional,” ujar Faizal Kiem.
Ia menjelaskan bahwa kejuaraan Tarung Tiga menjadi wadah bagi para peserta untuk memperlihatkan kemampuan di bidang kopi sekaligus membuka peluang untuk berkompetisi pada tingkat yang lebih luas.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong kreativitas dan keterlibatan generasi muda dalam mengembangkan potensi kopi. Hal tersebut sejalan dengan tema “Kopi Pemuda dan Kebhinekaan” yang menempatkan anak muda sebagai bagian penting dalam membangun kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat.
Di sisi lain, kehadiran sagu melalui kampanye Komunitas Colo Sagu turut memperluas makna kegiatan tersebut. Jika kopi menjadi ruang kompetisi dan pengembangan kemampuan, sagu membawa pesan mengenai pentingnya pelestarian pangan lokal dan penjagaan identitas budaya Papua.
Keduanya menjadi bagian dari satu kegiatan yang merayakan potensi lokal sekaligus mempertemukan semangat kreativitas, persatuan, dan kebhinekaan.
Keberagaman dalam Tarung Tiga tidak hanya terlihat dari latar belakang pihak-pihak yang terlibat, tetapi juga dari kekayaan tradisi, cita rasa, dan potensi daerah yang dapat diperkenalkan serta dinikmati bersama.
Melalui kegiatan ini, semangat persatuan diharapkan dapat berjalan beriringan dengan kecintaan terhadap kekayaan daerah. Kopi dan sagu menjadi contoh potensi lokal yang dapat membuka ruang kolaborasi, memperkuat kebanggaan terhadap identitas Papua, dan mendekatkan generasi muda dengan warisan budaya mereka.
Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 tahun 2026 pun menjadi momentum untuk mengingat bahwa persatuan dapat dibangun melalui berbagai ruang kebersamaan. Salah satunya melalui kegiatan yang menggabungkan kreativitas pemuda, keberagaman, dan pelestarian kekayaan pangan lokal.
Bagi Komunitas Colo Sagu, kampanye makan sagu merupakan bagian dari upaya menjaga agar warisan pangan Papua tetap dikenal, dikonsumsi, dan dicintai oleh masyarakat.
Sebab, melestarikan sagu bukan sekadar mempertahankan makanan tradisional, melainkan juga merawat identitas budaya Papua agar terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.








































