Jayapura – Sosok seniman senior Papua, Agus Ohee, kini diabadikan dalam sebuah film dokumenter berjudul Agus Ohee, Sang Maestro Seni dari Tanah Tabi. Film produksi Imaji Papua tersebut resmi diluncurkan oleh Asisten I Sekretariat Daerah Kota Jayapura, Evert Meraudje, di halaman Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih (Uncen), Rabu (29/4).
Peluncuran film ini menjadi bentuk penghormatan terhadap perjalanan panjang Agus Ohee dalam menjaga, mengembangkan, dan memperkenalkan seni budaya Papua, khususnya dari wilayah Tabi.
Dalam sambutannya, Evert Meraudje menilai para seniman memiliki peran besar dalam menjaga identitas budaya suatu daerah. Namun, menurutnya, tidak sedikit seniman yang berkarya dalam keterbatasan dan minim perhatian publik.
“Pemerintah Kota Jayapura setiap tahun memberikan penghargaan kepada para seniman dan saat ini sudah memasuki tahun ke-8. Para seniman sering kali bekerja dalam kesunyian, menciptakan dan merawat karya tanpa banyak sorotan. Bahkan ada yang berpulang tanpa sempat mendapatkan penghargaan yang layak,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa seni dan budaya merupakan bagian penting dari jati diri masyarakat. Karena itu, keberadaan para pelaku seni perlu mendapat dukungan dan apresiasi yang lebih luas.
“Budaya adalah identitas kita. Melalui budaya, kita mengetahui asal-usul dan nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi,” katanya.
Sementara itu, perwakilan Badan Pelestarian Kebudayaan, Yudha Yapsenang, menyampaikan apresiasinya terhadap upaya komunitas kreatif yang terus mengangkat kekayaan budaya Papua melalui berbagai medium, termasuk film dokumenter.
Menurutnya, Papua memiliki beragam potensi budaya yang layak dipromosikan, mulai dari seni tradisional, kuliner khas, hingga pengetahuan lokal seperti pengobatan tradisional.
“Kami mendukung setiap inisiatif pelestarian budaya. Kolaborasi berbagai pihak sangat diperlukan agar kekayaan budaya Papua dapat terus berkembang dan dikenal lebih luas,” ujarnya.
Head of Imaji Papua, Yulika Anastasya, menjelaskan bahwa film dokumenter tentang Agus Ohee merupakan hasil proses panjang yang melibatkan riset mendalam serta kerja sama dengan berbagai komunitas kreatif di Jayapura.
Film tersebut mendapat dukungan dari program LPDP Indonesiana dan sebenarnya telah selesai diproduksi sejak tahun sebelumnya. Namun, peluncuran resminya baru dapat dilakukan tahun ini.
“Film ini lahir dari proses kreatif yang panjang. Kami percaya film memiliki kekuatan besar untuk membawa cerita-cerita lokal Papua kepada audiens yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional,” kata Yulika.
Ia juga menambahkan bahwa perkembangan perfilman di Papua semakin menunjukkan kemajuan. Berbagai komunitas lokal terus menghasilkan karya yang mengangkat kearifan lokal dan cerita masyarakat Papua dari berbagai daerah.
Peluncuran film dokumenter ini tidak hanya menjadi penghargaan bagi Agus Ohee sebagai maestro seni Tanah Tabi, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat upaya pelestarian budaya Papua melalui karya audio visual yang mampu menjangkau generasi muda dan masyarakat global.*








































