JAYAPURA— Semangat persatuan dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 di Kota Jayapura, Papua, disuarakan dengan cara berbeda melalui bahasa isyarat. Ketua Komunitas Tuli Jayapura, Stephani C.L. Woen, mengajak jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menerjemahkan pesan Sumpah Pemuda lewat gerakan tangan, Rabu (28/10/2026).
Di hadapan para pejabat yang hadir, Stephani memperagakan bahasa isyarat untuk kalimat “Selamat Hari Sumpah Pemuda”. Ia kemudian mengajak peserta mengikuti gerakan tangannya, menciptakan momen kebersamaan yang menunjukkan bahwa persatuan dapat disampaikan tanpa harus melalui kata-kata.
Keterlibatan Stephani bukan sekadar bagian dari rangkaian seremoni. Kehadirannya membawa pesan penting bahwa komunitas Tuli juga memiliki ruang dan peran dalam membangun persatuan, memperkuat komunikasi, serta berkontribusi dalam kehidupan sosial masyarakat.
Melalui bahasa isyarat, Stephani sekaligus memperkenalkan cara berkomunikasi yang dapat membantu masyarakat memahami dan berinteraksi dengan komunitas Tuli. Gerakan tangan yang diperagakan menjadi jembatan untuk membangun kedekatan, menumbuhkan kepedulian, dan mengikis batas komunikasi antara kelompok masyarakat.
Kegiatan yang diselenggarakan Polresta Jayapura Kota bersama Gerakan Colo Sagu tersebut mengangkat semangat inklusivitas dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda. Pelibatan komunitas Tuli menjadi pengingat bahwa persatuan tidak hanya berarti menyatukan perbedaan suku, bahasa, dan budaya, tetapi juga memastikan setiap orang memperoleh kesempatan yang setara untuk berpartisipasi.
Momentum Sumpah Pemuda ke-98 ini juga menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam membangun lingkungan yang terbuka dan menghargai keberagaman. Semangat persatuan diharapkan tidak berhenti pada peringatan seremonial, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata, termasuk memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk terlibat aktif dalam berbagai kegiatan masyarakat.
Apa yang dilakukan Stephani menjadi pesan bahwa bahasa isyarat bukan sekadar alat komunikasi bagi komunitas Tuli, melainkan juga sarana untuk menyatukan perbedaan. Dari gerakan tangan sederhana di Jayapura, semangat Sumpah Pemuda kembali ditegaskan: persatuan adalah milik semua, tanpa terkecuali.*








































