JAYAPURA – Kopi dan sagu tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang. Potensi pangan lokal ini dinilai mampu memperkuat identitas budaya sekaligus merawat kebhinekaan di Kota Jayapura.
Pandangan tersebut disampaikan Co-Founder Gerakan Colo Sagi, Michael John Yarisetouw, dalam kegiatan Bincang Sagu yang berlangsung di BM Coffee, Kotaraja, Minggu (25/10/2026).
Menurut Michael, kekayaan sumber daya lokal yang dimiliki Indonesia, termasuk Papua, perlu dikembangkan secara lebih serius. Selain membuka peluang ekonomi, pengembangan potensi lokal juga menjadi cara untuk membangun kebanggaan terhadap identitas dan budaya sendiri.
Ia mencontohkan pengembangan kopi yang dilakukan BM Coffee sebagai salah satu bentuk upaya mengangkat potensi lokal agar memiliki nilai tambah. Hal serupa, menurutnya, perlu dilakukan terhadap sagu yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Papua.
“Kita memiliki banyak sumber daya lokal, tetapi belum semuanya dikembangkan dengan baik. Apa yang dilakukan BM Coffee dalam mengangkat kopi merupakan salah satu contoh bagaimana potensi lokal bisa dikembangkan. Hal yang sama juga perlu kita lakukan terhadap sagu,” ungkap Michael.
Ia menilai, kopi dan sagu memiliki peluang untuk dikembangkan melalui kreativitas serta keterlibatan generasi muda. Dengan pengelolaan yang tepat, kedua komoditas tersebut tidak hanya menjadi produk konsumsi, tetapi juga dapat berkembang menjadi bagian dari identitas dan kekuatan ekonomi masyarakat.
Michael juga melihat pertumbuhan usaha kafe di Jayapura sebagai peluang yang patut dimanfaatkan anak muda. Kehadiran kafe tidak semata-mata menjadi tempat berbisnis, tetapi juga dapat menciptakan ruang perjumpaan bagi masyarakat untuk berdiskusi, bertukar ide, dan membangun relasi.
Karena itu, ia mendorong agar generasi muda diberikan kesempatan lebih luas untuk menunjukkan kreativitas dan mengembangkan gagasan mereka.
Michael pun mengkritisi anggapan yang menyebut anak muda masa kini sebagai generasi template, yakni generasi yang dianggap memiliki pola pikir, pilihan, dan kecenderungan yang seragam.
“Saya kadang tidak setuju dengan ungkapan bahwa generasi saat ini adalah generasi template. Anak muda memiliki potensi, pemikiran, dan kreativitas yang beragam. Mereka perlu diberikan ruang untuk mengembangkan gagasan dan menunjukkan kemampuan masing-masing,” katanya.
Di luar potensi ekonomi, Michael menyoroti pentingnya menjaga kebhinekaan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Jayapura. Pengalamannya sejak menempuh pendidikan SMP hingga kuliah di kota ini membuatnya melihat keberagaman sebagai kenyataan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, menurutnya, nilai tersebut perlu terus dipelihara, terutama ketika kecenderungan eksklusivitas kelompok mulai membatasi interaksi sosial di tengah masyarakat.
“Sejak SMP hingga kuliah di Jayapura, saya melihat kebhinekaan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Tetapi, kebhinekaan itu bisa mulai terkikis ketika muncul eksklusivitas kelompok tertentu. Karena itu, kebhinekaan di Jayapura harus terus dirawat,” tegasnya.
Michael berpandangan, kebhinekaan tidak cukup hanya dimaknai sebagai keberadaan masyarakat dengan latar belakang yang berbeda. Lebih dari itu, keberagaman harus tercermin dalam sikap terbuka, saling menghargai, dan kesediaan untuk hidup berdampingan.
Dalam konteks tersebut, kopi dan sagu dapat menjadi pintu masuk untuk membangun interaksi yang lebih luas. Keduanya berasal dari potensi lokal yang berbeda, tetapi dapat dihadirkan dalam ruang yang sama untuk mempertemukan orang-orang dengan beragam pengalaman dan pandangan.
“Kopi dan sagu adalah dua hal yang berbeda, tetapi keduanya bisa bersatu dalam kebhinekaan. Perbedaan tidak seharusnya membuat kita terpisah. Justru, melalui potensi lokal seperti kopi dan sagu, kita bisa membangun kebersamaan sekaligus menjaga identitas Papua,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan seperti Bincang Sagu dapat terus berlangsung sebagai ruang dialog yang mempertemukan berbagai kalangan, khususnya generasi muda. Melalui forum semacam ini, masyarakat tidak hanya diajak mengenal dan mengembangkan pangan lokal, tetapi juga membangun kesadaran akan pentingnya menjaga hubungan sosial di tengah keberagaman.
Bagi Michael, merawat kebhinekaan membutuhkan keterlibatan semua pihak. Ruang-ruang perjumpaan perlu terus dibuka agar masyarakat dapat saling mengenal, memahami perbedaan, dan menjadikannya sebagai kekuatan bersama.
Dengan demikian, pengembangan kopi dan sagu di Jayapura diharapkan tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga menghadirkan nilai sosial dan budaya yang memperkuat kebersamaan masyarakat.*








































