BTM: Warisan Bung Karno bagi Papua adalah Keberpihakan kepada Rakyat Kecil

0

OJayapura – Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Papua, Dr. Drs. Benhur Tomi Mano, M.M., mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan peringatan Haul Bung Karno ke-56 sebagai momentum untuk memperkuat persatuan, gotong royong, serta keberpihakan terhadap rakyat kecil di Tanah Papua.

Ajakan tersebut disampaikan Benhur Tomi Mano (BTM)  dalam Pidato Kebangsaan Haul Bung Karno ke-56 bertema “Papua Dalam Napas Marhaenisme Bung Karno” di Sekretariat  DPD PDI  Papua, Minggu, 21 Juni 2026.

Menurut BTM, peringatan Haul Bung Karno bukan sekadar mengenang wafatnya Sang Proklamator pada 21 Juni 1970, melainkan menjadi ruang untuk meneladani dan melanjutkan cita-cita besar Bung Karno dalam menjaga persatuan Indonesia.

“Papua merupakan salah satu perjuangan besar Bung Karno dalam sejarah bangsa Indonesia. Bung Karno menegaskan bahwa revolusi Indonesia belum selesai sebelum Irian Barat kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, perjuangan pembebasan Irian Barat ditandai dengan pencanangan Trikora pada 19 Desember 1961. Perjuangan itu kemudian berlanjut melalui Perjanjian New York tahun 1962 hingga Papua kembali masuk dalam administrasi Indonesia pada 1 Mei 1963.

BTM menilai, perhatian Bung Karno terhadap Papua tidak hanya berkaitan dengan wilayah, tetapi juga masa depan masyarakat Papua. Salah satunya melalui pendirian Universitas Cenderawasih pada 10 November 1962 sebagai perguruan tinggi pertama di Tanah Papua.

“Bung Karno memahami bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya membebaskan wilayah, tetapi juga mencerdaskan rakyatnya. Beliau ingin putra-putri Papua menjadi pemimpin di tanahnya sendiri,” katanya.

Ia menambahkan, kepercayaan Bung Karno terhadap kemampuan Orang Asli Papua juga terlihat melalui penunjukan Eliezer Jan Bonay dan Frans Kaisiepo sebagai Gubernur Irian Barat.

Dalam pidatonya, BTM menegaskan warisan terbesar Bung Karno bagi Papua adalah nilai Marhaenisme, yakni keberpihakan kepada rakyat kecil, semangat gotong royong, persatuan, dan keadilan sosial.

Nilai tersebut, kata dia, masih sangat relevan dalam menjawab tantangan pembangunan Papua saat ini. Papua yang kaya akan sumber daya alam harus mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat, tanpa mengabaikan identitas budaya dan martabat orang Papua.

“Papua harus maju tanpa kehilangan jati dirinya. Inilah makna Trisakti Bung Karno, yakni berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Benhur juga memberikan apresiasi kepada para pemenang dan peserta Lomba Pidato Online Bulan Bung Karno Tahun 2026. Ia berharap generasi muda Papua terus belajar, membaca, serta berani menyampaikan gagasan demi memperjuangkan kepentingan rakyat.

Selain itu, DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jayapura dan DPC PDI Perjuangan Kota Jayapura turut mendapat penghargaan sebagai DPC terbaik dalam memeriahkan Bulan Bung Karno Tahun 2026.

Benhur turut menyampaikan terima kasih kepada seluruh tim kerja, pengurus, kader, simpatisan, serta badan dan sayap partai yang telah menyukseskan rangkaian Bulan Bung Karno sejak awal Juni 2026.

Berbagai kegiatan telah dilaksanakan, mulai dari diskusi publik, upacara Hari Pancasila, lomba pidato, kegiatan sosial kemasyarakatan, gerakan lingkungan, hingga pelaksanaan Haul Bung Karno.

Menutup pidatonya, Benhur mengajak seluruh masyarakat Papua untuk melanjutkan perjuangan Bung Karno dengan melawan kemiskinan, ketertinggalan, kebodohan, dan perpecahan.

“Bulan Bung Karno harus menjadi momentum memperkuat persatuan, gotong royong, dan pengabdian kepada rakyat. Semoga semangat Bung Karno terus hidup di Tanah Papua,” pungkasnya.*

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini