Dari Sagu Basah ke Tepung Kemasan, Perjuangan Yakobus Bangun Industri Pangan Lokal di Merauke

0

Merauke – Berawal dari pengolahan sagu secara manual, Yakobus, warga Kampung Tambat, Kabupaten Merauke, kini berhasil membangun industri pengolahan sagu yang tidak hanya memberdayakan masyarakat adat, tetapi juga memasarkan produknya hingga ke Bali, Yogyakarta, Semarang, dan Sumatera Barat.

Yakobus menceritakan, perjalanannya mengembangkan usaha sagu dimulai sejak awal tahun 2000-an. Kala itu seluruh proses pengolahan masih dilakukan secara tradisional menggunakan alat sederhana.

Pada 2007, ia mulai membuat mesin parut sagu sederhana untuk membantu mempercepat proses produksi. Upaya tersebut kemudian berkembang hingga akhirnya pada 2018–2019 kelompoknya memperoleh bantuan mesin pengolahan sagu dari Kementerian Pertanian sehingga mampu menghasilkan tepung sagu yang lebih berkualitas dan layak dipasarkan.

Menurut Yakobus, pengembangan industri sagu berangkat dari keinginan mempertahankan budaya pangan lokal masyarakat Marind, Wambon, dan Muyu di Kampung Tambat.

Yakobus, pelaku usaha sagu di Kampung Tambat

“Sejak dulu orang tua kami hidup dari sagu. Dulu kami tidak makan nasi, tetapi makan sagu. Itu budaya yang ingin kami pertahankan,” ujarnya.

Selain menjaga warisan budaya, industri sagu juga menjadi sumber penghidupan masyarakat. Yakobus mengorganisasi para mama-mama di kampung untuk bekerja secara berkelompok. Masing-masing tetap mengolah pohon sagu miliknya sendiri, namun proses produksi dilakukan bersama menggunakan mesin sehingga pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien.

“Dulu kerja manual. Sekarang dengan mesin, dalam sehari kami bisa memproses tujuh sampai delapan pohon sagu. Hasilnya tetap milik masing-masing, tetapi prosesnya kami kerjakan bersama,” katanya.

Setelah diparut, setiap anggota kelompok mengolah hasil sagunya hingga menjadi bola sagu atau tepung. Ketika ada pesanan dalam jumlah besar, seluruh anggota mengumpulkan hasil produksinya untuk dipasarkan bersama, kemudian hasil penjualan dibagikan sesuai kontribusi masing-masing.

Perkembangan usaha tidak berhenti pada penjualan sagu basah. Sejak memperoleh bantuan peralatan, kelompok usaha Yakobus mulai memproduksi tepung sagu kering dalam kemasan dengan merek dagang sendiri.

Saat ini produk mereka dipasarkan secara rutin ke berbagai daerah di Indonesia melalui pemesanan langsung maupun dibawa sebagai oleh-oleh oleh masyarakat Merauke yang kembali ke Pulau Jawa.

Dalam sekali proses produksi, satu batang sagu mampu menghasilkan sekitar 220 kilogram tepung sagu kering setelah melalui proses pencucian, pengeringan, hingga pengemasan.

Bagi Yakobus, sagu bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi juga memiliki nilai budaya yang masih kuat di tengah masyarakat Papua. Berbagai acara adat maupun kegiatan sosial masih membutuhkan sagu sebagai makanan utama sehingga permintaan terus meningkat.

Meski demikian, perjalanan mempertahankan industri sagu tidak selalu mudah. Sebelum fokus mengolah sagu, masyarakat Kampung Tambat sempat mengembangkan usaha pertanian padi. Namun keterbatasan alat pertanian membuat usaha tersebut sulit berkembang.

“Kami bertahan di sagu karena dari hasil inilah kami bisa membiayai sekolah anak-anak. Kalau tidak kerja sagu, kami tidak punya penghasilan lain,” ujar Yakobus.

Saat ini Kampung Tambat memiliki sekitar 17 hektare kebun sagu yang dikelola masyarakat. Jika digabungkan dengan kawasan pesisir Kalimaro, mulai dari Kampung Kamangi, Tambat, Senayu, Herom hingga Toray Rambau, luas kawasan sagu mencapai sekitar 220 hektare dan seluruhnya dikelola oleh masyarakat adat.

Yakobus berharap pemerintah dapat memberikan dukungan berupa tambahan mesin pengolahan, rumah produksi, serta bantuan modal usaha agar kapasitas produksi dapat terus meningkat.

Tepung sagu yang diproduksi Yakobus

Menurutnya, penambahan mesin tidak hanya meningkatkan produksi tepung sagu, tetapi juga membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat kampung.

“Kalau mesin ditambah, produksi semakin banyak, tenaga kerja juga terserap. Kami ingin sagu dari Merauke tidak hanya dipasarkan di Papua Selatan, tetapi bisa dikirim ke berbagai daerah di Indonesia,” katanya.

Ia menambahkan, harga jual sagu yang terus meningkat menjadi peluang besar bagi masyarakat untuk mengembangkan industri pangan lokal. Namun tanpa dukungan modal dan peralatan, banyak kelompok usaha yang kesulitan memperluas produksi meski telah memiliki kemampuan mengolah sagu secara mandiri.

Yakobus berharap perhatian pemerintah terhadap industri sagu semakin besar, mengingat komoditas tersebut tidak hanya menjaga ketahanan pangan lokal, tetapi juga menjadi sumber ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat adat di Merauke.*

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini