JAYAPURA – Ketua DPD PDI Perjuangan Papua, Benhur Tomi Mano, mengajak seluruh pihak untuk lebih mengedepankan dialog damai dan kemanusiaan dalam melihat persoalan Papua, di tengah kembali menghangatnya berbagai isu yang berkembang beberapa hari terakhir, hal tersebut disampaikannya saat Nobar Pesta Babi, Dialog Publik dan launching agenda bulan Bung Karno 2026, Selasa malam (26/05) di Kediamannya.
Menurut BTM, Papua tidak boleh terus menerus dijadikan ruang pertentangan kepentingan politik, sementara rakyat kecil justru menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.
“Saya berdiri di sini bukan hanya sebagai seorang tokoh politik. Tetapi saya berdiri sebagai seorang anak Papua yang lahir, besar, dan melihat sendiri bagaimana tanah ini terus berjalan di antara harapan dan luka,” ujarnya.
Ia mengatakan, di tengah berbagai perdebatan yang muncul, hal paling penting bukan siapa yang paling keras berbicara, melainkan apakah semua pihak masih mau mendengar suara masyarakat kecil di kampung-kampung Papua.
“Sering kali Papua hanya menjadi penting ketika ada keributan. Padahal di balik semua itu, ada mama-mama Papua yang hanya ingin anaknya sekolah dengan tenang. Ada anak-anak muda yang hanya ingin mendapat pekerjaan tanpa harus meninggalkan identitasnya,” katanya.
BTM juga menyoroti harapan masyarakat adat yang menginginkan penghormatan terhadap tanah leluhur mereka, serta keinginan masyarakat Papua untuk hidup aman tanpa rasa takut terhadap konflik dan kerusuhan.
Menurutnya, Papua tidak boleh terus menjadi panggung pertengkaran karena rakyat kecil terlalu lama hanya menjadi penonton dari berbagai pertarungan kepentingan.
“Mereka hanya menunggu satu hal sederhana, yakni keadilan dan ketenangan hidup,” tegasnya.
Ia menilai perbedaan pandangan politik maupun cara melihat pembangunan merupakan hal yang wajar dalam demokrasi. Namun, ia mengingatkan agar semua pihak tetap menjaga rasa hormat terhadap manusia Papua dan nilai-nilai yang hidup di dalamnya.
“Papua bukan tanah kosong. Papua punya jiwa, punya sejarah, punya adat, dan punya harga diri,” ucapnya.
Benhur menegaskan pembangunan Papua tidak cukup hanya menghadirkan infrastruktur dan proyek fisik, tetapi juga harus membangun rasa percaya, keadilan, dan kemanusiaan.
“Tidak cukup hanya membangun jalan, tetapi juga harus membangun rasa percaya. Tidak cukup hanya menghadirkan proyek, tetapi juga menghadirkan keadilan. Tidak cukup hanya bicara keamanan, tetapi juga bicara kemanusiaan,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Benhur mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan situasi saat ini sebagai momentum membuka ruang dialog yang lebih damai dan bermartabat demi masa depan Papua.
“Kita tidak ingin mewariskan trauma kepada anak-anak kita. Kita ingin mewariskan harapan, persaudaraan, dan Papua yang tetap berdiri tegak dengan martabatnya,” pungkasnya.*








































