Jayapura — Plh. Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua, David Sipahutar, menyebut inflasi di wilayah Papua dan tiga Daerah Otonomi Baru (DOB) pada April 2026 masih tetap terjaga. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), seluruh provinsi di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Papua mengalami inflasi, namun masih dalam kondisi terkendali seiring normalisasi permintaan pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri.
David Sipahutar menjelaskan inflasi bulanan sedikit meningkat akibat kenaikan harga bahan bakar avtur dan BBM non subsidi serta belum masuknya masa panen raya lokal komoditas hortikultura.
“Inflasi bulanan ini tetap terjaga seiring normalisasi permintaan pasca-HBKN Idul Fitri, meski terdapat sedikit peningkatan akibat kenaikan harga avtur dan BBM non subsidi serta belum masuknya periode panen raya lokal komoditas hortikultura,” ujarnya dalam siaran pers, Selasa (13/5/2026).
Untuk Provinsi Papua, inflasi tercatat sebesar 0,98 persen month to month (mtm), dengan inflasi tahun berjalan 1,39 persen dan tahunan 3,80 persen year on year (yoy). Inflasi terutama dipicu kenaikan harga ikan tuna, angkutan udara, dan tomat. Sementara laju inflasi tertahan oleh penurunan harga daging ayam ras, emas perhiasan, dan buah pinang.
Di Provinsi Papua Selatan, inflasi bulanan tercatat 0,94 persen (mtm), inflasi tahun berjalan 2,98 persen, dan tahunan 3,34 persen (yoy). Komoditas penyumbang inflasi tertinggi yakni angkutan udara, sawi hijau, dan kangkung. Sedangkan penahan inflasi berasal dari penurunan harga emas perhiasan, cabai merah, dan ikan mujair.
Sementara itu, Provinsi Papua Tengah mencatat inflasi bulanan sebesar 0,21 persen (mtm), tahun berjalan 0,16 persen, dan tahunan 1,53 persen (yoy). Kenaikan harga bawang merah, tomat, dan angkutan udara menjadi pemicu utama inflasi, sedangkan cabai rawit, emas perhiasan, dan daging ayam ras menjadi komoditas penahan inflasi.
Untuk Provinsi Papua Pegunungan, inflasi bulanan berada di angka 0,77 persen (mtm), dengan inflasi tahun berjalan 3,81 persen dan tahunan 4,89 persen (yoy). Inflasi dipengaruhi kenaikan harga angkutan udara, tomat, dan beras. Adapun penurunan harga ketela rambat, telur ayam ras, dan emas perhiasan membantu menahan laju inflasi.
David Sipahutar menambahkan berbagai langkah pengendalian inflasi terus diperkuat melalui sinergi bersama pemerintah daerah dan mitra strategis di seluruh Papua dan DOB. Upaya tersebut dilakukan melalui empat strategi utama, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Dalam aspek keterjangkauan harga, BI bersama pemerintah daerah dan Bulog rutin menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) guna menjaga stabilitas harga pangan. Selain itu, dukungan sarana dan prasarana produksi serta distribusi juga diberikan kepada kelompok tani di Papua Tengah untuk komoditas hortikultura dan aneka cabai.
“Berbagai edukasi terkait pengendalian inflasi juga terus dilakukan melalui media sosial maupun kegiatan literasi kepada mahasiswa di wilayah kerja KPw BI Provinsi Papua,” pungkasnya.*








































