Puisi Peminat Sastra Papua Milik Sekda Tolikara Lolos Kurasi Nasional

0

WAMENA-Puisi peminat sastra dan literasi Papua milik Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tolikara Yosua Noak Douw lolos kurasi nasional bersama 150 penyair Nusantara dan akan dibukukan dalam buku antologi Air Mata Sumatera.

Yosus Noak Douw dalam keterangan tertulis di Wamena, Sabtu mengatakan sayembara penulisan puisi diselenggarakan komunitas seni kuflet Padang Panjang, Majalah Elipsis, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang Panjang, Provinsi Sumatera Barat dan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan pengiriman naskah puisi berlangsung sejak 1-20 Desember, serta diumumkan panitia pada Kamis (25/12) 2025.

“Saya sudah diberitahu pihak panitia, puisi saya lolos tim kurasi bersama 150 puisi karya penyair lainnya di seluruh Indonesia. Pemberitahuan melalui Instagram Group Kuflet, ada 150 penyair dengan puisi karyanya terpilih akan diterbitkan dalam buku antologi puisi bertema bencana Air Mata Sumatera,” katanya.

Menurut dia, dunia satra sangat diminati olehnya sehingga memberanikan diri mengirim puisi orisinal terkait bencana alam yang melanda Pulau Sumatera beberapa waktu sebelumnya.

“Puji Tuhan, naskah puisi saya lolos kurasi dan akan diterbitkan panitia. Pengalaman ini sangat berharga karena bukan sekadar ajang perlombaan tetapi ruang belajar efektif bersama para penyair dari seluruh Indonesia, hemat saya puisi hanya sarana mengasah kepekaan batin yang dijembatani diksi-diksi menarik penyair hasil refleksi batin atau bertolak realitas sosial,” ujarya.

Dia menjelaskan tema bencana Air Mata Sumatera seperti dalam judul antologi, tidak sekadar menghadirkan duka, tetapi juga membuka ruang refleksi bersama tentang kemanusiaan, solidaritas dan tanggung jawab kolektif. Melalui puisi, para penyair diajak tidak hanya merekam peristiwa, tetapi menghadirkan suara nurani, suara yang menembus jarak pandang geografis, perbedaan latar, dan sekat-sekat identitas.

“Bagi saya pribadi, sebagai penikmat sastra dari Tanah Papua, keterlibatan dalam antologi ini memiliki makna yang lebih dalam, Papua dengan segala kekayaan alam dan budayanya kerapkali berada di pinggiran percakapan sastra nasional. Karena itu, ruang ekspresi yang digagas Kuflet dan Elipsis penting sebagai bentuk rangkulan bahwa sastra tumbuh dan hidup dari Sabang sampai Merauke, dan dari Miangas hingga Rote tanpa sekat-sekat primordial,” katanya.

Sementara itu Perwakilan Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang Faruq mengatakan antologi puisi bencana jilid II Air Mata Sumatera yang diterbitkan Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang lahir dari kegelisahan bersama. Pihak panitia menyebut akhir November hingga awal Desember lalu, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat diuji oleh banjir bandang, angin kencang, dan tanah longsor.

“Peristiwa-peristiwa itu bukan sekadar deretan angka korban dan kerusakan, melainkan luka kolektif yang merembes ke kesadaran kita sebagai sesama manusia. Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang menerbitkan buku ini sebagai wujud empati dan keprihatinan sekaligus ikhtiar untuk merawat ingatan dan solidaritas,” ujarnya.

Selain sebagai ruang ekspresi, kata Faruq, antologi ini juga ditujukan untuk menggalang donasi yang akan diteruskan kepada para penyintas bencana. Puisi-puisi di dalamnya diharapkan menjadi jembatan antara rasa dan aksi kata-kata yang tidak berhenti pada kepedihan, tetapi bergerak menuju kepedulian nyata.

“Sejak pengumuman penerimaan naskah pada 1 Desember 2025 hingga penutupan pada 20 Desember 2025, Kuflet menerima lebih 200 puisi bertema bencana alam di Sumatera. Para penulis datang dengan latar dan pendekatan yang berbeda-beda, ada yang merekam detik-detik bencana, ada yang menulis dari jarak batin, ada pula yang mengekspresikan duka melalui simbol dan metafora,” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini