
Peringati Hari Kebebasan Pers, AJI Jayapura Gelar Diskusi Publik
JAYAPURA-Wakil Kepala Penerangan Daerah Militer (Wakapendam) Kodam XVII/Cenderawasih, Letkol Inf Candra Kurniawan menegaskan pihaknya mendukung penuh kekebasan pers di Papua.
“Tentu dari Pendam sangat mengapresiasi acara diskusi ini dan sangat bagus. Kita dukunglah kebebasan pers (di Papua,red), ke depan mudah-mudahan lebih bagus,” kata Wakapendam kepada Bintang Papua usai diskusi publik word press freedom day 2022 journalism under digital siege dengan tema perlindungan terhadap jurnalis dari kekerasan fisik dan serangan digital guna mewujudkan kebebasan pers di Papua yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Jayapura di salah satu hotel di wilayah Abepura, Sabtu (21/5).
Candra menegaskan kembali bahwa pihaknya tidak pernah membatasi wartawan untuk menulis apa saja mengenai kondisi yang terjadi di Papua.
“Masalah tulisan kami tidak pernah membatasi, kalau dibatasi nanti ini, itu. Tetapi pesan saya kepada rekan-rekan wartawan marilah kita bangun Papua dengan aman, damai tentu untuk kesejahteraan masyarakat di wilayah Papua,” pesan Wakapendam Letkol Inf Candra Kurniawan.
Sementara itu, Kasubdit Dikmas Bid Humas Polda Papua, Agus Riyadi menyampaikan media center Polda Papua pihaknya sangat terbuka bagi media untuk mengakses berita apapun. “Berita apa saja kita akan kasih dan pada intinya rekan-rekan wartawan dengan Polri harus saling mendukung,” katanya.
Akademisi Universitas Muhammadiyah Papua sekaligus Koordinator Bidang Pengawasan Isi Siaran di Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Papua, Dr Nahria,S.Sos,M.Si mengatakan diskusi publik hari ini adalah satu langkah maju.
“Apalagi kita berbicara mengenai kebebasan pers, perlindungan terhadap jurnalis dengan kondisi Papua yang rawan konflik. Banyak sekali kepentingan politik yang harus betul-betul diperhatikan oleh wartawan dalam pemberitaan,” katanya kepada wartawan usai kegiatan.
Menurutnya, kebebasan pers memerlukan komitmen bersama. Kekebasan pers kata Nahria, bukan hanya milik jurnalis atau pers sendiri tetapi milik dari masyarakat.
“(Sehingga) untuk mewujudkannya tentu bukan hanya dari media atau pers itu sendiri tapi kita semua bertanggungjawab untuk itu,” ujarnya.
Oleh karena itu, dari pihak akademisi berusaha mendorong apa yang bisa dilakukan kepada mahasiswa untuk memberikan pemahaman bagaimana kebebasan pers sebenarnya.
“Tujuannya ketika mereka (mahasiswa) berkecimpung menjadi jurnalis profesional, mereka sudah punya bekal yang baik,” harapnya.
Mengapa masih ada pembatasan-pembatasan dari TNI-Polri dalam peliputan berita kata Nahria, sebenarnya di level atas sudah paham mengenai profesionalisme jurnalis itu dan UU Pers itu menjamin kebebasan pers.
“Yang menjadi masalah adalah petugas-petugas yang di lapangan harus dibekali dengan pemahaman-pemahaman dari kerja-kerja jurnalis. Tentu saya memberikan rekomendasi sebaiknya dalam proses pendidikan di TNI-Polri dalam kurikulumnya sudah dimasukkan tentang kebebasan pers secara umum,” imbaunya.
Ketua AJI Kota Jayapura, Lucky Ireeuw mengatakan kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Kebebasan Pers se-Dunia yang setiap tahunnya dilaksanakan pada 3 Mei.
“AJI dalam satuan kegiatan di seluruh Indonesia termasuk kita AJI Kota mengadakan berbagai kegiatan memperingari Hari Kebebasan Pers se-Dunia,” kata Lucky mengawali sambutannya dalam diskusi publik tersebut.
Lucky bilang kegiatan jurnalistik sangat penting dalam memenuhi kebutuhan informasi dari masyarakat, terutama berita informasi yang akurat, berimbang dan memenuhi standar-standar jurnalistik.
“Apalagi kita saat ini di era globalisasi, perkembangan teknologi informasi yang sangat tinggi. Dan ini menjadi tantangan tersendiri apalagi kita di Papua,” aku Lucky yang juga sebagai Pemimpin Redaksi (Pemred) Cenderawasih Pos.
Lucky menyadari Papua kasus konfliknya sangat tinggi baik itu konflik politik, ekonomi, sosial, budaya.
“Papua bukan hanya konflik saja masih banyak hal menarik di sini. Di sini menjadi tugas media untuk meng-cover, meliput informasi yang ada untuk melebarluaskan ke publik,” tuturnya.
Di samping itu ujar Lucky, banyak sekali tantangan yang dihadapi wartawan dalam meliput berita di lapangan.
“Selain kondisi geografis, akses liputan, kalau mau meliput di Papua tidak murah. Mau ke mana-mana harus naik pesawat dan lain sebagainya dan itu menjadi persoalan tersendiri,” akunya.
Untuk meliput di Papua kata Lucky, ada tantangan lainnya seperti kekerasan terhadap wartawan baik fisik, psikis dan kekerasan secara digital.
“Sesuai perkembangan teknologi informasi. Bagaimana kita mampu bekerja secara maksimal menyampaikan tugas dan tanggung jawab kita sebagai media, jurnalis di tengah-tengah persoalan,” ujarnya.
Pria asli Port Numbay ini menyebut kalau mencatat angka kekerasan terhadap wartawan dari tahun ke tahun mengalami kenaikan.
“Dalam 10 tahun terakhir, dalam catatan AJI ada 30 kasus untuk kita di Papua. Dua (2) tahun terakhir juga ada kekerasan baik itu secara fisik, digital. Ada kawan-kawan yang mengalami kekerasan secara digital,” bebernya.
“Kita juga mungkin mengalaminya tapi kita menganggap apa ini sebenarnya, tiba-tiba akun tidak bisa akses, nomor juga susah kalau di hubungi secara nyata seperti doxing,” tambahnya.
Lucky mengambil contoh Media Suara Papua tiba-tiba tidak bisa diakses dan ini zaman digital sudah mulai pergeseran dari media cetak ke media digital yang begitu berkembang di Papua.
Selain itu menurutnya, banyak kasus kekerasan terhadap jurnalis tidak berakhir baik atau tidak ditangani secara maksimal.
“Jarang juga ada kasus yang dibawa sampai ke pengadilan. Palingan kalau ada kekerasan terhadap jurnalis berakhir dengan minta maaf. Kita di Papua masih harus ada perbaikan di sisi keselamatan terhadap kerja-kerja jurnalistik. Indeks kemerdekaan pers kita d ranking 33 dari 34 provinsi masih paling terbawa diangka 66,87 kategori agak bebas,” bebernya lagi.
Ini menjadi tantangan lanjut Lucky sebagai insan pers, pemerintah, masyarakat dan siapa saja yang ada di Papua. “Ini tantangan kita semua untuk dapat melawan hal ini untuk kita menuju kebebasan pers yang diharapkan,” tutupnya.(yud)







































