
“Tetapi dengan Protokoler Kesehatan yang Ketat”
JAYAPURA – Pemerintah Papua telah mengijinkan operasional penerbangan penumpang kembali beroperasi, namun dibatasi dua kali seminggu. Kendati demikian hal itu masih dikeluhkan oleh sejumlah maskapai yang beroperasi di Bandar Udara Sentani, Kabupaten Jayapura. Oleh sebab itu, Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Papua yang membidangi transportasi meminta agar, Pemerintah Provinsi Papua menambah jumlah penerbangan di Bandara Sentani.
Ketua Komisi IV DPR Papua Herlin Beatrix Monim,SE mengungkapkan, pada saat melaksanakan rapat bersama seluruh stakeholder yang berkaitan dengan transportasi udara, meminta agar dilakukan penambahan penerbangan.
“Memang tidak sekaligus drastis. Tapi perlahan-lahan ditambah tentunya dengan menerapkan protokoler kesehatan yang ketat,” kata Herlin Beatrix Monim,SE saat ditemui awak media, Rabu (1/7).
Dikatakannya, dalam pertemuan tersebut juga Kepala Dinas Perhubungan Papua pun mengatakan, bahwa seminggu yang lalu penyebaran covid-19 di Papua cukup landai. Hal itu lanjut Herlin Monim, memberikan semangat baru kemungkinan bisa masuk dalam tahapan new normal.
“Tetapi tentunya kami DPR Papua tidak bisa mengambil keputusan sebab itu ada dinas terkait. Kami hanya mengantisipasi pada 3 Juli mendatang, rapat forkompinda akan mengambil kesepakatan. Apakah tetap pada keputusan awal atau membuka sedikit ruang bagi penerbangan. Tentunya dengan melihat situasi,” ujarnya.
Menurutnya, dari sektor ekonomi, keadaan seperti ini sangat berdampak bagi seluruh stakeholder yang beroperasi di Bandara Sentani. Sebab dari penjelasan salah satu maskapai, di waktu normal penerbangan bisa dilakukan 11 kali dalam sehari. Namun dengan situasi seperti ini penerbangan menurun drastis.
“Nah ini kan tentu berdampak pada operasional penerbangan. Kemudian kita takut di tengah pandemi ini perusahaan koleps, berimbas pada karyawan,” imbuhnya.
Oleh sebab itu sambung Herlin Beatrix Monim, pihaknya meminta agar Pemerintah Provinsi Papua bisa menambah jumlah penerbangan di masa pandemi covid-19 ini.
“Tapi tidak satu kali dalam jumlah banyak, perlahan-lahan. Tapi tentunya dengan menerapkan protokoler kesehatan yang sangat ketat,” ucapnya.
“Sebagai contoh kalau bisa penumpang yang ingin masuk ke Papua dan daerah pegunungan harus menunjukkan hasil swab test. Karena kita tahu fasilitas kesehatan kita kurang memadai. Ditambah jumlah tenaga medis yang sedikit,” sambungnya.
Ditegaskannya, alasan Komisi IV DPR Papua konsen dan fokus kepada bidang transportasi udara, karena mayoritas daerah di Papua hanya bisa dijangkau dengan pesawat.
“Kami juga pertegas kenapa kami konsen di bidang ini karena salah satu akses transportasi penting di Papua ada transportasi udara,” tandasnya.
Sekadar diketahui dalam pertemuan dengan seluruh stakeholder di lingkungan Bandara Sentani hadir pula, Wakil Ketua Komisi IV DPR Papua Thomas Sondegau,ST, Sekertaris Komisi IV Sinut Busup,ST.,M.Si, Anggota Komisi IV Jansen Monim,ST.,M,MT, Boy Markus Dawir,SP, Herman Yogobi, Apeniel Sani, Alfred F Anouw,S.IP, Mesak Magai,S.IP., M.Si, H Abu Hanifau Asso,S.Sos.(nik)







































