WAMENA – Kasus pencemaran nama baik penjabat Sekda Provinsi Papua Pegunungan Wasuok Siep yang dilakukan oleh seorang mahasiswa bernama Paniet Pahabol ditanggapi oleh salah satu tokoh intelektua Papua Pegunungan asal Yahukimo Marinus Yalack.
“Ya memang sudah klarifikasi di kantor Mapolres Kabupaten Jayawijaya Wamena, hari Sabtu tanggal 13 April 2024,” katanya. Menurutnya, Paniet Pahabol membunuh karir seorang pemimpin provinsi Papua Pegunungan.
“Paniet Pahabol biar kamu tahu bahwa bapak Wasuok Siep adalah orang tua kami, anda berpikir logika yang sehat ketemu secara administrative,” ungkapnya.
Oleh karena itu ia menyampaikan, semua warga masyarakat maupun kaum intelektual, perlu memahami bahwa setiap proposal bantuan kepada pemerintah perlu dipahami secara administratif dengan baik.
“Karena pemerintah tidak bisa mengakomodir semua bantuan seperti keinginan masyarakat tetapi akan disesuaikan dengan anggaran yang tersedia,” katanya.
Sehubungan permohonan tersebut, lanjutnya, jika tidak ada perhatian pemerintah, jangan langsung menjatuhkan pejabat daerah contohnya menjatuhkan nama baik Sekda Papua Pegunungan.
“Sebagai salah satu tokoh intelektual Papua Pegunungan, saya tegaskan, mari kita menjaga iklim kerja pelayanan pemerintahan dan jangan menjatuhkan wibawa kader- kader terbaik Papua Pegunungan hanya untuk kepentingan pribadi, apa lagi ini di sampaikan oleh kaum intelektual,” katanya.
Dilansir dari Ceposonline.com, Kasus Pencemaran nama baik yang menimpa Penjabat Sekda Papua Pegunungan, Wasuok Siep akhirnya diselesaikan di Mapolres Jayawijaya, Sabtu (13/04/2024).
Dalam penyelesaian tersebut, pihak keluarga meminta klarifikasi dari oknum mahasiswa yang memposting flayer yang dibuatnya dan disebarkan di media sosial.
Dalam flayer tersebut ada 4 poin yang ditulis yaitu Wasuok Siep gagal dalam pelayanan, tak percaya pada masyarakat Papua Pegunungan, mencari keberadaan orang dari asal usul dan provinsi hadir bukan milik Wasuok Siep namun untuk melayani masyarakat.
Tudingan ini dibuat dan diviralkan lewat Medsos, lantaran oknum mahasiswa ini merasa kesal lantaran proposal yang diajukan tak dijawab saat itu. Pasalnya mereka diminta untuk melengkapi beberapa berkas lagi agar bantuan tersebut bisa diproses.**








































